Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

Do'a


Ada suatu cerita. Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!" Dor!!! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha... sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan... Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?" Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan," kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Sumber : tidak diketahui

Kucuran Nikmat Berkat Amal Saleh


KESULITAN finansial adalah masalah klasik yang hampir pernah dialami setiap orang. Dalam kondisi ini, tidak sedikit orang yang bingung, bahkan stres. Betapa tidak, hajat hidup tinggi tapi pemasukan rendah. Bahkan seringkali minus. Siapapun pasti masygul menghadapi situasi ini. Kondisi ini juga pernah saya alami.

Sebagai guru honor di sekolah swasta di kota Depok, Jabar, gaji saya hanya Rp. 250 ribu perbulan. Uang sebesar itu otomatis bakal terkulai lemas oleh kerasnya cekikan harga barang yang melambung tinggi.

Tahu sendirilah, bagaimana kejamnya kota Depok, yang tak jauh beda dengan kota tetangganya, Jakarta.

Kendati begitu, saya tidak mau pusing, apalagi berputus asa. Meski pendapatan kecil, tapi saya yakin, Allah SWT maha kaya dan pemberi rezeki. Rezeki-Nya tidak akan pernah habis meski tiap detik dikeruk oleh milyaran manusia. Dan terpenting, rezekiku, meski banyak orang di dunia, tak akan ada yang mengambilnya. Saya yakin itu.

Karena itu, saya berniat melanjutkan kuliah S2 meski biaya belum ada. Tapi, dengan kondisi keuangan tipis, saya jadi pesimis.

“Apa bisa gaji Rp. 250 buat biaya kuliah, sedang kebutuhan yang lain numpuk?” batinku.

Rasioku belum bisa menerima. Hitungan matematis masih dominan ketimbang hitungan iman. Jujur saja, hal itu membuatku berfikir keras sekitar sebulan lamanya. Tidur pun jadi tak nyenyak. Gundah gaulana. Yang ada di pikiran hanya satu; kuliah, kuliah, dan kuliah.

Saya pun sadar. Tidak semua bisa dirasionalkan. Ada hitungan Allah SWT yang tak bisa dinalar logika. Sebab, pertolongan-Nya jarang bisa diprediksi oleh logika. Entah besok, bulan depan atau jam ini juga. Wallahu’alam. Untuk mematangkan niatku, saya pun shalat tahajud.

Sekitar sebulan lamanya, setiap di sepertiga malam, saya selalu berdoa kepada Allah sang pengijabah doa.

“Ya Allah, jika niat saya ini baik dan bisa membantu agama-Mu, maka mudahkanlah. Sebaliknya, jika tidak, maka jauhkanlah.”

Itulah doa yang saya panjatkan. Pendek, tapi dalam. Sebuah permintaan sekaligus pilihan; ya atau tidak. Doa itupun saya ulang-ulang. Tak jarang diselingi dengan deraian air mata. Meminta kepada yang Maha Menguasai Kehidupan, memang harus begini. Mengiba. Laksana pengemis kepada majikannya.

Hatiku pun mulai tenang. Putusan untuk lanjut kuliah telah bulat. Tiba-tiba, ada seorang teman yang mengajak silaturahim ke salah satu ustadz. Saya pun ikut. Kebetulan, saya mengenal ustadz yang juga pernah menjabat sebagai anggota DPD sebuah provinsi di Indonesia bagian Timur. Tak disangka, sang ustadz ternyata menyuruhku kuliah lagi. Tak hanya itu, ustadz itu juga memberiku uang Rp. 300 ribu.

“Secepat mungkin, kalau bisa langsung daftar. Jangan ditunda lagi,” ujarnya mantap.

Hatiku pun bergemuruh. Laksana deburan ombak. Bunyinya sahut menyahut dan berakhir di batu karang. Begitu juga hatiku. Kini, ucapan tahmid dan tasbih mengisi penuh relung hatiku.

Ya, Allah inikah tanda doaku Engkau kabulkan? Saya pun langsung mendaftarkan diri. Ketika itu, saya langsung mendaftar magister manajemen pendidikan Islam di sebuah universitas Islam. Jurusan itu saya impikan sejak lama.

Saya ingin jadi “ideolog” dalam bidang pendidikan. Miris rasanya lihat output pendidikan sekarang yang kering spiritual. Hanya kognitif saja yang dijejali. Dengan harapan, saya bisa lahirkan generasi Islam handal. Setidaknya mengikuti jejak Imam Al-Gahzali yang melahirkan generasi Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima besar pembebas negeri Palestina. Ya, itulah cita-citaku. Normatif memang!

Kendati sudah registrasi, bukan berarti masalah selesai. Saya harus membayar uang gedung sebesar Rp. 5 juta rupiah. Tapi, lagi-lagi saya yakin Allah SWT akan mempermudah langkah hamba-Nya yang menuntut ilmu. Saya pun tetap optimis melangkah dengan mencari beasiswa kesana-kemari.

Alhamdulillah, akhirnya dapat beasiswa dari sebuah lembaga amil zakat sebesar Rp. 3 juta rupiah. Uang itu sangat membantu kekurangan pembayaran.

Kuliah pun berjalan lancar. Depok-Bogor cukup jauh. Karena tidak punya kendaraan, saya selalu nunut teman satu kuliah dan kebetulan punya motor. Atau, jika tidak, saya naik angkot.

Tak terasa, tiga bulan sudah saya jalani kuliah. Tak ada masalah. Paling keuangan dan itu bisa saya atasi. Namun, yang membuat tiba-tiba menjadi bingung, ada seorang bapak menawarkan putrinya. Masa ada yang mau dengan saya; anak perantauan dan tidak punya uang. Tampang juga pas-pasan. Saya kira, tawaran itu hanya canda. Ternyata tidak. Bapak yang tinggal di Sukabumi, Jabar itu terlihat sangat serius.

Dia menawarkan anaknya yang sedang kuliah di sebuah universitas di Bandung.

“Saya percaya sama adik. Karena itu, saya ingin jodohkan anak saya,” ujarnya serius.

Saya pun langsung mengiyakan meski belum melihat siapa calon istri saya. Ternyata, saya kaget bukan kepalang. Calon istri saya tidak hanya sangat cantik, tapi juga berjilbab. Sosok muslimah yang luar biasa, menurutku.

Karena tahu kondisi saya, seluruh biaya pernikahan diurus mertua. Saya hanya ikut nyumbang Rp. 1 juta rupiah. Awalnya saya memang belum sepenuhnya berani untuk menikah. Apalagi kalau bukan alasan ma’isyah. Kuliah aja belum kelar, apalagi harus membiayai keluarga. Untung saja, pihak mertua selalu men-support saya agar selalu yakin.

Menikahlah, maka engkau akan kaya, begitu dalil yang pernah saya baca. Dan ternyata benar. Dengan pernikahanku, rezeki seolah tak pernah putus. Baru beberapa bulan menikah, saya dapat beasiswa dari provinsi tempat asalku sebesar Rp. 12 juta rupiah. Tak hanya itu, istriku sangat pengertian. Dia tidak pernah meminta sesuatu aneh-aneh, hatta, sehelai kain pun. Subhanallah!

Jadi, sejak menikah hingga sekarang, saya belum pernah membelikan pakaian satu stelpun. Jika ada rezeki, dan hendak saya belikan, dia selalu menolak.

“Jangan mas, pake aja buat biaya kuliah atau membeli buku,” ujar istriku. Saya pun bahagia dibuatnya. Anugerah paling indah dalam hidupku. Betul, istriku adalah perhiasan terindah. Ya, istri yang shalehah.

Kini, dari pernikahanku telah dikaruniai putri yang cantik dan imut. Saya harap, kelak, dia jadi mujahidah shalihah dan pinter seperti Aisyah, putri Nabi.

Tak hanya itu, kuliah S2-ku tinggal menyelesaikan tesis. Jika tidak ada aral melintang, insya Allah, tahun depan sudah diwisuda. Dan, jika diizinkan Allah, saya akan langsung lanjutkan ke jenjang S3. Lengkap sudah nikmat dari Allah SWT yang diberikan kepadaku.

Bagiku, kemudahan dan nikmat Allah SWT tidak gratis diberikan. Setidaknya, ada sebab-musababnya. Saya jadi ingat ketika mendiang ibuku beberapa waktu hendak menghembuskan nafas terkhir berpesan kepadaku.

“Nak, jangan sedih. Jika kita tak lagi hidup bersama di dunia ini, insya Allah kita akan sama-sama di Surga. Jadilah anak yang shalih, jalin silaturahim, dan rajin belajar. Tahu Imam Nawawi? Jadilah seperti dia, ulama besar yang punya karya fenomenal.”

Petuah almarhum ibu-lah yang jadi motivasi hidupku. Petuah itu yang menyemangatiku ketika lemah. Petuah itulah yang membuka cakrawala hidupku. Dan petuah itulah yang membuatku bercita-cita untuk belajar dan kuliah hingga sekarang.

Meski saya tahu, ibu tidak meninggalkan kepingan rupiah, tapi dengan petuah itu, melebih dari rupiah.

Karena petuah itulah, saya berusaha menjadi orang baik. Rajin ibadah, jaga silaturahim, dan suka berbagi pada sesama. Dalam berbagi, misalnya, saya selalu usahakan meski dalam segala keadaan; sempit dan lapang. Termasuk ketika saya dapat beasiswa Rp 12 juta.

Tiba-tiba dua orang teman saya meminjam uang. Tak tanggung-tanggung, masing-masing Rp 3 juta. Karena butuh, tanpa merasa berat, saya pinjamkan uang tersebut.

Saya yakin, dengan itu, Allah SWT akan mengganti rezeki jauh lebih banyak dari itu. Dari apa yang telah saya lakukan, bisa jadi, pertolongan Allah SWT tak pernah terputus. Saya pun selalu beramal saleh, jika ingin pertolongan Allah terus mengucur.

[ Seperti diceritakan Imam kepada hidayatullah ]

oOo

Tidak pernah berputus asa orang yang dekat dengan ALLOH SWT . Dia-lah pemilik nasib hamba-hamba Nya. Dia mampu membalikan nasib kita dalam sekejap "... idza aroda syai-an an yaqula lahu : Kun fayakun ! "

"Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia. ( QS: Albaqoroh : 21)
"

Ayo kita :" Rajin ibadah, jaga silaturahim, dan suka berbagi pada sesama." Agar dimudahkan kehidupan kita oleh ALLOH SWT dan dikumpulkan kita di syurga - Insya Alloh - Amiin(from inspring story)

Semoga ini baik, Insya Allah


Dikisahkan, ada seorang raja yang setiap pergi berburu selalu ditemani oleh seorang sahabatnya yang terkenal dengan ketakwaan dan wirainya. Tiap kali raja menemui sesuatu yang tidak mengenakkan, sahabatnya selalu berkata, “Semoga itu baik, insya Allah.” Kata-kata ini selalu diulang-ulanginya pada setiap kejadian yang secara dhahir adalah kejadian buruk.

Pada suatu hari saat sang raja berburu bersama sahabatnya ditemani oleh pengawalnya, jari raja terkena tombak dan terpotong. Darah pun mengucur. Si sahabat berkata, “Semoga itu baik, insya Allah.” Raja marah dan memerintahkan pengawalnya untuk memenjarakannya. Saat pengawal ditanya, “Apa yang dikatakannya saat kalian menutup pintu penjara?” Pengawal menjawab, “Ia hanya mengatakan, ‘Semoga ini baik, insya Allah.”

Suatu ketika saat raja pergi berburu tanpa ditemani oleh sahabatnya, ia tersesat di hutan. Sedangkan di hutan tersebut terdapat suku yang menyembah berhala dan tiap tahun mengorbankan orang kepada berhalanya tersebut. Raja pun ditangkap oleh suku tersebut. Namun, saat diperiksa didapati bahwa jari raja tidak lengkap. Mereka pun menolak mengorbankannya, sebab korban harus dalam kondisi yang sempurna. Raja lalu dilepas dan ia kembali ke istananya.

Akhirnya ia menyadari kebenaran ucapan sahabatnya. Sahabatnya pun dikeluarkan dari penjara. Raja bertanya, “Ketika engkau mengatakan, ‘Semoga itu baik, insya Allah.’ Saat jariku terpotong, aku menyadari bahwa kebaikan itu adalah aku tidak jadi disembelih untuk berhala karena fisikku tidak sempurna. Sekarang saat engkau dipenjara, apakah kebaikan itu?” Ia menjawab, “Andaikata saat itu saya bersamamu, maka mereka akan menyembelih saya sebagai penggantimu.”

oOo

Jika anda mendapat kejadian buruk ucapkan : "Semoga ini baik, insya Allah.”
Semoga ALLOH SWT memberi kebaikan pada kehidupan Anda. Amiin :)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetauhi”. (QS Al-Baqarah : 216).