Kamis, 03 Maret 2011

Target Hidup

oleh : A'a Gym

Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia beruntung.
Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, ia rugi.
Barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia celaka.

Sesungguhnya setiap manusia merugi kecuali orang-orang yang memanfatkan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Orang merugi bisa dilihat dari bagaimana perilakunya ketika ia naik kedudukan duniawinya. Di dalam ajaran Islam, yang penting itu percepatan, bukan kecepatan. Bedanya, kecepatan itu konstan, percepatan itu perubahan kecepatan per satuan waktu. Seperti balap mobil. Satu mobil tetap dalam kecepatan sekian, sedangkan yang lainnya bertahap kecepatan hingga meninggi. Mobil kedua ini tentunya yang akan menang.

Kita banyak sekali melakukan kelalaian yang haru kita taubati. Taubatnya kita dibuktikan dengan mengisi sisa waktu kita dengan yang bermanfaat sebaik-baiknya, dan mengajak orang lain untuk menjalankan kebaikan ini.

Waktu itu amat menghakimi diri kita. Bila waktu kita isi sia-sia, maka kita akan menjadi orang sia-sia. Apabila kita isi dengan perbuatan buruk, maka kita harus siap menanggung perbuatan buruk kita, kecuali dihapus dengan bertaubat.

Waktu itu sama bagi siapa pun, di mana pun, sehari semalam sebanyak 24 jam. Akan tapi mengapa dalam sehari orang ada yang bisa mengurus perusahaan besar, misalnya, tapi ada juga orang yang tidak bisa mengurus dirinya pun. Tidak boleh menyalahkan waktu, pasti kita tidak serius mengaturnya. Pasti tidak serius menggunakan waktu seefektif dan seefisiennya, sehingga Rasulullah Saw pun mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang kebanyakan manusia terlena, yakni nikmat kesehatan dan waktu luang.

http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/ramadhan/10-sifat.jpg

Sesungguhnya Allah SWT sudah menyiapkan waktu kepada kita umat manusia sama jumlahnya. Bagaimana rahasianya manusia bisa menjalankan percepatan? Segala sesuatu jalannya sering ditentukan pada target yang hendak dicapai. Misalnya, orang yang tidak memiliki target hapalan juz’amma, maka tidak akan tercapai-capai sampai kapan pun hapal juz 30-nya. Kalau tidak bisa menargetkan yang demikian tinggi, kita harus bisa mengukur kemampuan diri atau memakai sistem pentahapan. Misal lain, target terpenting dalam hidup ini menjadi orang yang bertakwa (ahli takwa). Jangan sampai mati kecuali dalam keadaan beriman. Dengan target seperti itu ia akan memanfaatkan waktu seoptimalnya. Perintah dan larangan Allah Swt demikian dijaga. Dan dilakukan pentargetan tahapan, seperti ibadah harian yang ditentukan percepatannya, sehingga makin bertambah amal-amalnya.

Orang-orang yang menjadikan kematian sebagai salah satu target, maka ia akan meningkat percepatannya. Percepatan yang sangat penting adalah apakah dalam waktu yang sama menambah hebatnya amal, walaupun tidak dipungkiri tiap kita berbeda-beda kemampuannya.

Perlu kita mencontoh bagaimana manfaat sinar matahari. Supaya rumah ini terang, kita harus mempunyai keinginan membuka jendela dan garden-garden. Allah sangat luas memberikan hidayah dan karunianya, hanya kitanya sendiri yang tidak membuka diri. Tidak ada ketenangan kecuali dengan hati yang bersih. Tidak ada amal yang diterima kecuali dengan hati yang bersih. Makanan ada tapi mangkok kotor, apakah yang dipikirkan, makanan atau mangkok? Yang paling penting dari percepatan itu apa pun adalah kebersihan hati.

Kebersihan bisa dikeruk dan jangan sampai ditahan. Kalau sudah makin bersih akan banyak yang ditampakkan dari rahasia kehidupan ini, seperti lalu lintas rejeki, kesalahan-kesalahan diri, dan sebagainya. Tidak ada yang menghalangi pertolongan Allah, kecuali oleh dosa-dosa kita. Di antara ibadah yang efektif pula dapat membersihkan hati adalah dengan sholat.

Ibarat dengan orang yang memiliki penyakit menular, maka kita pun akan takut tertular. Seperti itulah kalau kita bergaul dengan orang yang bisa menularkan sikap buruk. Dan tiada satu pun perbuatan yang menimpa kecuali dari perbuatan kita sendiri.

http://www.eramuslim.com/ramadhan/tausyiah/target-hidup.htm

Salam,

Selasa, 01 Maret 2011

Saudaraku,Bagaiman kabar Iman Dalam Hatimu?


Hati...
Ibarat rumah yang tak mungkin ada dua penghuni di dalamnya.Satu-satunya yang paling berhak menguasai,merajai dan menjadi pujaan hati adalah Sang Maha Pemilik Segala kerajaan(Al-Maalikul Mulki).Tidak ada dan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi-Nya di dalam hati.
Jika sesuatu selain Dia masuk tanpa seizin-Nya,maka saat itu pula seorang hamba bisa kehilangan Dia.Fatal...itulah akibatnya.
Hati...
Adalah poros kebaikan dan kerusakan.
Kekhusyu'an zhohir(lahiriyah anggota badan) adalah penyempurna kekhusyu'an hati sekaligus lambangnya.Sedangkan kerusakan zhohir adalah bukti kerusakan bathin(hati).
Hati-hati...
Lazimnya sifat manusia suka memilih-milih,namun harus diingat bahwa harus dipilah,mana yang sifatnya nafsu dan mana yang sifatnya qalbu(hati).Mana yang merupakan kepentingan makhluq dan mana yang lebih bersifat rabbani.
Ketika keresahan melanda,tidak tahu kemana arah yang harus dituju,ketika langkah terasa berat,dan dilingkupi keraguan.Maka cobalah berhenti sejenak,lalu
"Mintalah fatwa pada hatimu sendiri,kebajikan adalah sesuatu yamg membuat tenang jiwa dan hati,sedang dosa adalah sesuatu yang mengusik jiwa dan meragukan hati"{Diriwayatkan Imam Ahmad dan Ad-Darimi}.
"Qul aamantu billaah(katakanlah,"aku beriman kepada Alloh) tsummas taqiim(kemudian istiqamahlah)"{HR.Muslim}.
Iman kepada Alloh itu dengan hati sedang istiqamah itu dengan amal yang dibangun di atas iman,kedua kata itu telah mencakup seluruh muatan agama.{Syaikh Al-Utsaimin}.
Sebagian ulama mengungkapkan,
"Tidaklah hati itu disebut 'Al-Qalb',melainkan karena ia berbolak-balik(taqallub) maka waspadailah keberbolak-balikan hati"{Ibnu Daqiq Al-Id dalam Syarah Hadits Arba'in An-Nawawiyah}.
Wallohul musta'aan walaa hawla walaa quwwata illaa billaah.(from Inpiring story)

Assalamualikum, setelah lama tak kirim cerita, berikut cerita yg mungkin dpt merubah kepribadian kita, minimal mindset kita tentang kehidupan dan kemanusiaan

EMPATI
By: Andy F Noya
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja.



Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.



Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang.



Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia.

Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membukapintu, menahannya sebentar dan menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberat-kan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu.Mulailah sekarang juga.

(from Inspiring story)

Sabtu, 19 Februari 2011


Jatuh...
siapa manusia yang tidak mengalami jatuh dalam ehidupan ini? bahkan seorang anak yang sedang belajar berjalan pun acapkali mengalami jatuh. Tapi apakah anak itu lantas putus asa?Seandainya dia putus asa dan tidak mau lagi belajar berjalan sudah dapat dipastikan dia tidak pernah bisa berjalan sampai saat ini. Itulah yang akan kita alami jika sewaktu kecil kita putus asa dalam berjaalan niscaya sampai saat ini kita tidak akan bisa berjalan.
Tapi mengapa sekarang kita takut untuk menglami jatuh dala hidup ini, bukankah kita semasa kecil sering jatuh meski kadang menangis. Bukankah kelahiran sudah memuktikan keunggulan kit dalam persaingan kita di dalam rahim unuk mengalahkan berjuta sel sperma? Lalu kenapa sekarang setelah dewaa kita menjadi seperti pecundang yang yang selalu ragu untuk menentukan langkah, takut untuk mempunyai cita-cita sampai kita takut untuk bermimpi?
sewaktu masih kanak-kanak kita tak pernah ragu untuk menjawab apa cita-cita yang ditanyakan ke kita, atau dengan PD menari dan bernyanyi di depan umum tanpa pernah memperdulikan pandangan orang lain. Tapi setelah dewasa kita selalu meraa atau merasa ragu untuk menjawab apa cita-cita kita, dan yang lebih parah kita tidak pernah PD untuk tampil di depan umum apalagi untuk tampil di panggung bisa-bisa sakit perut.
Apa kita harus kembali ke masa kanak-kanak untuk dapat menjawab apa cita-cita kita dengan yakin dan tampil di depan umum tanpa harus memperhatikan pandangan orang lain tentang kita? tentu tidak. saatnya kita menjawab cita-cita kita dengan penuh yakin dan berani tampil ke depan dengan modal yang kita miliki. Mulai saat ini kita bangun itu semua, karena apa karena kita erlahir unggul. Keep fighting !!!

Jumat, 18 Februari 2011


Semangat....semangat....dimana lagi harus kudapatkan semangat itu???
kata2 itu seringkali terlintas..terucap dalam hati ataupun lontaran2 kecil kita terhadap diri....


Yup..bergumam sendiri emang gak ada habisnya sahabat...
temuilah orang2 yang bisa memberimu semangat lebih..
karena semangat idealnya ada karena sesuatu...bukan ada tanpa sebab....

teringat sebuah tadzkiroh dari seorang sahabat kala itu.....
semoga bermanfaat...yuk nikmati hidangan dibawah ini ( ^_^ maklum jam makan siang nih,,,)

" Allah tau saat kau lelah ...saat terasa bban begitu berat..Allah tau berapa banyak pengorbananmu...Ingatlah dimanapun kau berada dan apapun yg kau hadapi..Allah mngetahui dan sllu bersamamu!!! Kesulitan mungkin akan menyentuh Orang BerIman tapi kesulitan takkan mempengaruhi orang yang berDzikir.MAha Suci Engkau Ya RABB.Semangat sahabat semoga hari ini penuh berkah untuk kita semua..Amin".

Yang sholat yang sholat do'akan kami yah agar ttp mjadi Insan yg semangat....

Kasih Ibu


SOUTHWALES, KOMPAS.com - Meski tahu harus membayar dengan nyawanya, Donna Blanks asal South Wales tetap mempertahankan kandungannya. Si bayi lahir, Donna pun meninggal.


"Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Donna akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa"


Kisah ini bisa dibilang bukti nyata kalau kasih ibu terhadap anak tiada terkira. Donna Blanks, 32, asal South Wales rela mengorbankan nyawa agar punya anak. Tak hanya itu, Donna juga harus menderita sakit yang tak terkira selama mengandung dan sesudah melahirkan.


Pasangan Donna dan Gary Thomas telah menunggu lama sebelum akhirnya menyadari kalau mereka akan punya momongan. Setelah penantian 13 tahun, mimpi itu bisa terwujud.


Sayangnya, impian itu dirusak oleh kenyataan kalau Donna akan kehilangan nyawa jika mempertahankan kandungannya. Sebab dokter mendapati kalau Donna mengalami gagal ginjal.


Masalah ginjal itu membuat kehamilan menjadi berbahaya bagi nyawa Donna sendiri. Atas dasar pertimbangan itu, dokter telah meminta agar kandungan Donna digugurkan agar nyawanya selamat.


Usulan aborsi tersebut ditolak oleh Donna. Ia tak mau melepas kesempatan untuk menjadi seorang ibu yang sudah diimpikan selama 13 tahun. Donna pun bertekad untuk melanjutkan kehamilannya, meski tahu kalau bayi yang dilahirkannya harus membayar dengan nyawanya sendiri.


Ibu dari Donna, Sallie (52) yang berasal dari Newport, South Wales mengamini kalau impian Donna adalah menjadi seorang ibu. Menurut Sallie, menjadi seorang ibu adalah satu-satunya hal yang diinginkan oleh Donna seumur hidupnya.


Donna yang berprofesi sebagai perawat telah mengalami masalah medis sejak remaja. Akibatnya Donna pun sempat berpikir kalau dirinya tak akan mampu memiliki momongan.


Ia telah menderita diabetes sejak usia 12 tahu. Kondisinya makin memburuk seiring bertambahnya usia. Kehamilan turut memperparah kondisi tubuh Donna.


"Karenanya Donna percaya kalau ia mendapat keajaiban ketika hamil. Ia juga berjanji akan mengorbankan segalanya untuk melindungi kehamilannya, termasuk mengorbankan dirinya sendiri. Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Ia akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa," ucap Sallie.


Kehamilannya sendiri tak mudah. Demi janin yang dikandung, Donna harus berhenti mengkonsumsi obat-obatan untuk masalah ginjal yang dideritanya. Akibatnya, Donna mengalami sakit yang tak tertahankan.


Setelah 27 minggu, Donna mendapatkan impiannya, seorang bayi laki-laki telah lahir. Kebahagiaan Donna dibarengi dengan kondisi tubuhnya yang semakin memburuk.


Tak hanya itu, bayi yang diberi nama Cade ini lahir prematur dan dokter memprediksi hidup Cade tak akan lama. Dengan berat kurang dari 2,5 kilogram dan masalah pada katup jantung, Cade kecil berjuang untuk terus bertahan hidup.


Segala kemungkinan dijalani agar Cade terus bertahan hidup. Cade harus menjalani operasi jantung untuk menyambung hidup. Ia juga harus kembali naik meja operasi untuk membenahi masalah pada sistem pencernaanya. Malah operasi yang terakhir ini lebih sulit dan kompleks.


Tapi Cade membuktikan dirinya sebagai anak yang kuat. Kondisi Cade semakin membaik dan makin kuat. Sebaliknya, kondisi Donna malah makin lemah dari hari ke hari.


Imbasnya, Donna pun harus menjalani proses cuci darah sebanyak tiga kali seminggu di rumah sakit University of Wales. Ibu dan anak ini dirawat di rumah sakit yang sama, jadi Donna tetap bisa berada di samping Cade ketika di rumah sakit.


Setelah tiga setengah bulan, Cade sudah cukup kuat untuk meninggalkan perawatan dari rumah sakit. Donna pun memutuskan untuk mengubah jenis cuci darah yang dijalani agar bisa menemani Cade di rumah.


“Meski bahagia, kondisi kesehatan Donna terus menurun. Tapi putri saya seorang wanita yang tangguh. Ia tetap merawat Cade dengan bantuan dari kami,” ucap Sallie.


Sebenarnya ada alternatif medis yang bisa dilakukan oleh Donna. Dokter telah menawarkan operasi cangkok ginjal agar nyawa Donna selamat. Bahkan ayah dan kakak Donna, Russel dan Christopher sudah bersedia untuk mendonorkan ginjal mereka. Keduanya adalah donor yang cocok bagi Donna.


Tapi kondisi Donna makin parah. Ia mengalami masalah dengan jantungnya, artinya ia tak bisa langsung menjalani cangkok ginjal begitu saja.


Akhirnya Donna harus kembali dirawat di rumah sakit setelah dokter menyuruhnya untuk menjalani terapi cuci darah yang berbeda jenis.


Terakhir kali Donna bicara pada keluarganya, ia mengatakan kalau dirinya merasa baik-baik saja dan berharap bisa berada di rumah keesokan harinya.


Tapi nasib berkata lain, tanggal 22 September dini hari, pihak rumah sakit mengabarkan Sallie kalau Donna sudah tiada.


Suster mendapati Donna terkena serangan jantung. Setelah 40 menit berjuang untuk menyelamatkan Donna, akhirnya tim dokter pun kalah oleh nasib. Donna secara resmi dinyatakan meninggal.


“Waktu yang kuhabiskan bersama Donna tak cukup lama. Meski tak lama, aku tahu dia wanita yang menakjubkan yang selalu melakukan apa saja untuk kebaikan orang lain. Dia benar-benar wanita yang sangat langka. Dia akan selalu kuingat,” ucap Gary, pasangan hidup Donna.


Sallie menambahkan kalau dirinya tidak siap untuk kehilangan putri kesayangannya. Meski demikian, Sallie bangga akan perjuangan Donna.


“Kami semua sedih akan kepergian Donna. Cade harus tumbuh tanpa sentuhan seorang ibu,” ucap Sallie.

Sallie turut merawat Cade dan merasa beruntung bisa melihatnya tumbuh besar. Sallie berjanji akan menceritakan semua perjuangan dan betapa mengagumkankannya Donna kepada Cade.


“Saya bisa melihat diri Donna ada dalam Cade. Saya berharap Cade mewarisi sifat dan rambut bergelombang milik Donna yang cantik. Cade pasti akan bangga terhadap ibunya,” imbuh Sallie. (mic)

Pesan : banyak-banyaklah berdoa ini :

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Al Israa’:24] (from inspiring story)

Rabu, 16 Februari 2011

Ada suatu cerita. Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!" Dor!!! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha... sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan... Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?" Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan," kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Sumber : (inspring story)