Jumat, 12 Agustus 2011

Renungan Ramadhan

"Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang."


Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH– menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini dibulan ini (Ramadhan), ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ as-shiyami
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.

Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukangtiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Al Qur’an dulu baru yang lain

Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.

Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an di hati


Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?

Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin

Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan.

Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.

Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius.dikutip dari a

Jumat, 03 Juni 2011

"Hari inikah Pemakamanku?"


Hari inikah pemakamanku?
Perlahan, tubuhku ditutupi tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka,
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan...

Orang tua yang belum sempat ku bahagiakan pun pergi
Saudara yang sering ku sakiti pun tak menemani
Teman dekat yang kubanggakan tak juga disisi
Harta yang ku kumpulkan tak juga terbawa sedikitpun
Jasad yang dulu tegak dengan kesombongan kini terdiam tak berkutik

Tetapi aku tetap sendiri,
disini, menunggu perhitungan ...

Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma'af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri...

Tuhanku, (entah dari mana kekuatan itu datang, setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika Kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika Kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja...
Aku akan berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku,
yang selama ini telah aku sakiti hatinya
yang selama ini telah aku bohongi
Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji-janji palsu yg sering ku umbar dulu.

Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta,
teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakitkan hati mereka,
maafkan aku ayah dan ibu,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu ...

beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh-sungguh beramal soleh,
Aku sungguh ingin bersujud dihadapan-Mu,
bersama mereka ...

begitu sesal diri ini,
karena hari-hari telah berlalu tanpa makna penuh kesia-siaan,
kesenangan yang pernah kuraih dulu,
tak ada artinya sama sekali ...

mengapa ku sia-siakan saja,
waktu hidup yang hanya sekali itu,
andai ku bisa putar ulang waktu itu ...

Hari inikah pemakamanku?
dan semua menjadi tak terma'afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan ...
--------------------

Kamis, 28 April 2011

Quranic Leadership: Belajar Konsisten


Menjadi pribadi yang konsisten memang tidak mudah. Dalam bahasa agama, kita mengenal istilah “istiqomah” yang maknanya sering didekatkan dengan konsistensi. Dalam Surat Huud ayat 112, ada perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau selalu istiqomah, “Fastaqim...”. Bahkan turunnya ayat itu menjadikan rambut beliau beruban. Ini menunjukkan demikian beratnya perintah untuk tetap istiqomah, konsisten di jalan yang benar.

Konsisten, mungkinkah gambarannya seperti seorang yang berjalan di atas jalan lurus dan dia memandang jauh ke depan? Dia hanya melihat ke satu titik yang menjadi tujuannya dan tak mau menengok kiri-kanan betapapun di sekitar jalan itu banyak tempat yang menarik untuk disinggahi. Banyak orang yang singgah di tempat-tempat itu. Sebagiannya dia kenal dengan baik. Bahkan mereka mengajaknya untuk singgah. Segala bujuk rayu, kadang disertai paksaan, tak henti-hentinya menghadang. Tapi dia tetap memandang jauh ke depan, melihat tujuannya dengan jelas. Orang lain mungkin tak melihat tempat yang dia tuju atau mereka melihatnya sebagai titik kecil yang lebih baik diabaikan saja. Dia melihatnya begitu terang, jelas sekali. Dan demikianlah dia tetap konsisten, tak menoleh kiri-kanan, tak peduli berapa orang yang mempedulikan dirinya. Dia tetap persisten, maju terus sehingga sampai kepada tujuannya yang sejati. Dia pun tetap resisten, bisa mencegah dan menolak bujuk rayu serta paksaan untuk singgah di tempat peristirahatan pinggir jalan.

Ya, konsistensi itu memang indah tapi juga tidak mudah. Perjuangan untuk konsisten seringkali terasa pahit namun buahnya terasa manis. Pada sebagian orang yang sudah terbiasa ‘menderita’ dalam perjuangannya, mereka bahkan bisa merasakan manisnya kepahitan dalam perjuangan. Kenapa? Karena visi yang jauh ke depan menembus batas-batas duniawi terasa begitu manis di hati mereka. Sehingga, derita perjuangan yang mereka alami tak berarti apa-apa dibandingkan indahnya tujuan mereka. Sebagai perumpamaan, mungkin begitulah yang dialami perempuan-perempuan Mesir yang mengiris-iris tangan mereka sendiri tanpa merasa sakit sebab mereka terbuai keindahan wajah Nabi Yusuf yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Sungguh, penampakan Yusuf membuat mereka tak merasakan sakit, bahkan sempat memuji-muji Allah dan mengatakan, “Ini bukan manusia, melainkan malaikat yang mulia!”.

“Perempuan-perempuan itu,” tulis KH. Rahmat Abdullah (dalam artikel yang berjudul “Energi Cinta”), “...bukan contoh yang baik untuk cinta, kecuali untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran), bila seraut wajah yang tak kebal luka dapat membuat mereka tak merasakan sakit mengiris-iris jari, bagaimana leburnya semua rasa sakit dan pengorbanan para pecinta, ketika kekuatan bashirah (mata hati) mereka diperlihatkan kesenangan abadi di surga.” []

www.quranicleadership.blogspot.com

Jumat, 15 April 2011

Sekiranya Anda Gagal


Sekiranya Anda mengalami kegagalan dalam usaha meraih cita-cita, tetaplah berbaik sangka kepada Allah. Saya kira Anda menyepakati poin ini. Dan sekiranya Anda mengalami kegagalan yang begitu menyakitkan, selalulah curigai diri Anda sendiri. Mungkin kegagalan itu merupakan sinyal bahwa selama ini Anda kurang sungguh-sungguh dalam pencapaian cita-cita Anda. Anda belum konsisten. Atau mungkin cita-cita itu sendiri masih samar, belum ada deskripsi yang jelas bagi cita-cita Anda. Sekiranya cita-cita itu telah jelas, mungkin saja Anda belum mengoptimalkan potensi-potensi yang Anda miliki. Dengan kata lain, mungkin selama ini Anda belum benar-benar bersyukur. Namun jika Anda telah mengoptimalkan segala kemampuan Anda hingga batas maksimal dan Anda masih gagal juga, toh semua itu merupakan takdir yang Allah tetapkan atas Anda. Namun ingatlah bahwa itu hal itu perlu disikapi dengan bijak, bukan lantas Anda katakan, “Memang sudah nasib saya begini, mau diapakan lagi?” (alias berputus asa).

Kita semua ingin sukses dan tak ingin gagal. Tapi adakah orang yang hidupnya selalu sukses? Adakah orang yang selalu diberi kelapangan dan kesenangan sepanjang hidupnya? Jika Allah menghendaki, bisa saja hal semacam itu terjadi. Tapi Allah Mahaadil. Pasti Dia pergilirkan manusia dengan kesuksesan dan kegagalan, kelapangan dan kesempitan. Hidup ini, kadang menuntut kita ada di bawah dan kadang posisi kita ada di atas.

Orang yang berpikiran dan berhati luas akan selalu mendapatkan hikmah dari berbagai kondisi yang dialaminya. Baginya, sukses tidak selalu merupakan kemuliaan dan gagal bukan selalu merupakan kehinaan. Yang terpenting baginya, dalam keadaan sukses-gagal, senang-susah, lapang-sempit, suka-duka, kaya-miskin, kuat-lemah; dan dalam berbagai keadaan yang selalu berlawanan; dia selalu melihat ada intervensi Allah di sana.

Tepat sekali ungkapan Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam: “Ketika Allah memberimu, maka Dia memperlihatkan belas kasih-Nya padamu. Ketika Dia menolak memberimu, maka Dia memperlihatkan kekuasaan-Nya padamu. Dan dalam semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan menghadapmu dengan kelembutan-Nya.”.

Sering kita terpesona dengan keindahan kata-kata yang keluar dari hati seorang bijak yang mampu ‘membaca’ hakikat kehidupan, sehingga seolah kata-kata itu membuat hati kita mengangguk menyetujuinya. Memang kata-kata itu berkesan. Tapi jangan kita lupa, ada yang jauh lebih bermakna sementara banyak di antara kita melalaikannya, itulah kalam Allah.

Al-Qur’an. “Tiadalah Kami turunkan padamu Al-Qur’an ini untuk menyusahkanmu.” (Thaahaa: 2). Sedangkan manusia itu diciptakan Allah dalam keadaan bersusah payah. Tidak ada manusia yang tak pernah mengalami kesusahan. Seandainya pun ada manusia yang selalu dilapangkan hidupnya, pastilah dia tetap pernah mengalami kesusahan. “Sungguh telah Kami ciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Al-Balad: 4).

Al-Qur’an. Kita yakin bahwa Allah menurunkannya bukan untuk membuat kita jadi susah. Bahkan Al-Qur’an itu penawar bagi penyakit-penyakit di dalam hati, termasuk jika hati kita terasa sempit tatkala mengalami kegagalan.

Dengarkanlah Rasulullah mengajarkan sebuah doa, “Tiadalah seorang hamba tertimpa kesusahan dan problema lalu berdoa dengan membaca: [Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, putra hamba-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu. Berlaku padaku hukum-Mu. Adil untukku ketetapan-Mu. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama milik-Mu yang Engkau berikan atas diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau kuasai pada ilmu ghaib di sisi-Mu; jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyubur hatiku, cahaya jiwaku, pelita kesedihanku, penghapus duka lara dan gundah gulanaku.] niscaya Allah akan menghilangkan kesusahannya dan menggantinya dengan kegembiraan.”

Jadi sadarilah, jika kita ingin hidup sukses di jalan kebenaran, kita harus siap dengan berbagai rintangan yang selalu ‘setia’ menghadang di tengah perjalanan. Berbagai rintangan itu tentu harus dihadapi dengan kesabaran dan harapan yang tak pernah pudar. Sangat besar kemungkinannya, kita mengalami beragam kesukaran hidup bahkan kegagalan bertubi-tubi. Kenapa? Karena kita ingin hidup sejahtera dalam keberkahan, sedangkan godaan dunia terus menantang dengan arus materialisme yang dibungkus dalam kemasan modern. Dan godaan setan ‘memaksa’ kita untuk terus bertarung dengan hawa nafsu kita sendiri.

Orang-orang berkompetisi memburu kekayaan, popularitas dan kedudukan. Mungkin kita termasuk orang-orang yang memasukkan poin-poin itu sebagai variabel kesuksesan kita. Memang, tabiat kecenderungan itu tak bisa kita salahkan. Tapi adakah kita ingin jadi Qarun? Atau seperti orang yang berangan-angan memiliki harta Qarun ketika dia menggelar karnaval kekayaannya? Lalu kita pun segera sadar saat Allah membenamkan dia dan hartanya ke dalam perut bumi. Seketika itu, kita koreksi paradigma keinginan kita.

Nasihat lama mengingatkan agar kita melihat ke atas dalam masalah keimanan atau keshalihan dan melihat ke bawah dalam hal kondisi duniawi. Ini sejalan dengan hadits riwayat Imam Bukhari bahwa Rasulullah mengatakan, “Jika seseorang di antara kalian melihat orang yang diberi kelebihan harta dan anak, hendaknya ia melihat orang yang lebih rendah darinya.”

Dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan juga begitu. Sekiranya kita gagal atau mengalami musibah yang tidak menyenangkan, maka hendaknya kita ingat akan Rasulullah SAW, betapa cobaan yang dialaminya lebih berat dibanding cobaan yang ditimpakan kepada siapapun di muka bumi. Singkatnya, bicara soal menikmati kesuksesan dan menelan pil pahit kegagalan adalah bicara tentang rekayasa pain and pleasure (kepedihan dan kesenangan). Ini rekayasa yang penting untuk dilakukan sebagai netralisasi hati atas segala hal yang kita alami dalam hidup ini. Apa itu rekayasa pain and pleasure?

Anda tentu setuju bahwa kegagalan itu pedih rasanya dan Anda pun sepakat bahwa kesuksesan itu menyenangkan. Yang kita bicarakan ini adalah kesuksesan dan kegagalan yang biasa dipahami sebagai tercapai atau tidaknya cita-cita kita, atau dengan kata lain kesuksesan dan kegagalan yang bersifat duniawi. Titik ekstrem bagi orang yang mengalami kesuksesan adalah kesombongan dan lupa diri. Sedangkan bagi orang yang mengalami kegagalan, maka dia akan putus asa dalam menjalani hidupnya. Dua sisi ekstrem itu bisa dicegah atau diobati dengan rekayasa pain and pleasure. Caranya adalah dengan mengalihkan pandangan kepada the real pain and pleasure, kepedihan dan kesenangan yang sebenarnya.

Apa itu pain dan pleasure yang sebenarnya? Itulah derita abadi siksa neraka dan juga sebaliknya kesenangan abadi nikmat surga. Kalau kita mengalami kegagalan atau ujian hidup lainnya yang terasa sangat berat dan menyakitkan, maka ingatlah kesenangan abadi di surga sehingga kita tidak menjadi putus asa. Dan jika kita sukses atau mendapat kesenangan lain, maka ingatlah derita abadi di neraka sehingga kita tidak menjadi sombong dan lupa diri.

Bisa juga berlaku dengan logika sebaliknya. Kalau mendapatkan kesenangan di dunia, maka kita ingat bahwa kesenangan itu belum apa-apa dibanding kesenangan abadi di surga. Dan jika kita mendapatkan kepedihan di dunia, maka kepedihan itu pun tak seberapa kalau dibandingkan dengan derita abadi di neraka. Dengan cara ini, didukung interaksi kita dengan Al-Qur’an, maka kita bisa meraih predikat kebijaksanaan. Dan kita pun bisa menikmati hidup ini setiap saat dan keadaan. Jangankan kesuksesan, kegagalan saja bisa dinikmati. []
(Quranic Enlightenment)

Rabu, 06 April 2011

Hak Seorang Muslim atas Muslim lainnya





Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam perkara:

(1) Apabila engkau menjumpainya engkau berikan salam kepadanya
(2) Apabila ia mengundangmu engkau memperkenankan undangannya
(3) Apabila ia meminta nasehat, engkau menasehatinya
(4) Apabila ia bersin dan memuji Allah, hendaklah engkau mentasymitkannya (berdoa untuknya)
(5) Apabila ia sakit hendaklah engkau menjenguknya
(6) Apabila ia mati hendaklah engkau antarkan jenazahnya."
(HR.Muslim dan Tirmizi)

Jumat, 18 Maret 2011

The Power of Love


Cinta
membuat si dungu menjadi pandai
membuat si malas menjadi rajin
membuat si kikir menjadi dermawan
membuat si lemah menjadi kuat
membuat si miskin menjadi kaya
membuat si jahat menjadi baik
membuat setan menjadi malaikat
membuat hitam menjadi hitam
membuat suram menjadi cerah
membuat sedih menjadi bahagia
membuat tangis menjadi tawa

Cinta dapat merubah segalnya
sungguh sang pecinta itu amatlah lemah
dia menjadi takluk kepada yang dipuja

Rabb jadikanlah cintaku kepadaMu melebihi cintaku kepada apapun dan kepada siapapun


Rabu, 16 Maret 2011

Quranic Leadership: Belajar Konsisten


Menjadi pribadi yang konsisten memang tidak mudah. Dalam bahasa agama, kita mengenal istilah “istiqomah” yang maknanya sering didekatkan dengan konsistensi. Dalam Surat Huud ayat 112, ada perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau selalu istiqomah, “Fastaqim...”. Bahkan turunnya ayat itu menjadikan rambut beliau beruban. Ini menunjukkan demikian beratnya perintah untuk tetap istiqomah, konsisten di jalan yang benar.

Konsisten, mungkinkah gambarannya seperti seorang yang berjalan di atas jalan lurus dan dia memandang jauh ke depan? Dia hanya melihat ke satu titik yang menjadi tujuannya dan tak mau menengok kiri-kanan betapapun di sekitar jalan itu banyak tempat yang menarik untuk disinggahi. Banyak orang yang singgah di tempat-tempat itu. Sebagiannya dia kenal dengan baik. Bahkan mereka mengajaknya untuk singgah. Segala bujuk rayu, kadang disertai paksaan, tak henti-hentinya menghadang. Tapi dia tetap memandang jauh ke depan, melihat tujuannya dengan jelas. Orang lain mungkin tak melihat tempat yang dia tuju atau mereka melihatnya sebagai titik kecil yang lebih baik diabaikan saja. Dia melihatnya begitu terang, jelas sekali. Dan demikianlah dia tetap konsisten, tak menoleh kiri-kanan, tak peduli berapa orang yang mempedulikan dirinya. Dia tetap persisten, maju terus sehingga sampai kepada tujuannya yang sejati. Dia pun tetap resisten, bisa mencegah dan menolak bujuk rayu serta paksaan untuk singgah di tempat peristirahatan pinggir jalan.

Ya, konsistensi itu memang indah tapi juga tidak mudah. Perjuangan untuk konsisten seringkali terasa pahit namun buahnya terasa manis. Pada sebagian orang yang sudah terbiasa ‘menderita’ dalam perjuangannya, mereka bahkan bisa merasakan manisnya kepahitan dalam perjuangan. Kenapa? Karena visi yang jauh ke depan menembus batas-batas duniawi terasa begitu manis di hati mereka. Sehingga, derita perjuangan yang mereka alami tak berarti apa-apa dibandingkan indahnya tujuan mereka. Sebagai perumpamaan, mungkin begitulah yang dialami perempuan-perempuan Mesir yang mengiris-iris tangan mereka sendiri tanpa merasa sakit sebab mereka terbuai keindahan wajah Nabi Yusuf yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Sungguh, penampakan Yusuf membuat mereka tak merasakan sakit, bahkan sempat memuji-muji Allah dan mengatakan, “Ini bukan manusia, melainkan malaikat yang mulia!”.

“Perempuan-perempuan itu,” tulis KH. Rahmat Abdullah (dalam artikel yang berjudul “Energi Cinta”), “...bukan contoh yang baik untuk cinta, kecuali untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran), bila seraut wajah yang tak kebal luka dapat membuat mereka tak merasakan sakit mengiris-iris jari, bagaimana leburnya semua rasa sakit dan pengorbanan para pecinta, ketika kekuatan bashirah (mata hati) mereka diperlihatkan kesenangan abadi di surga.” []

from Quranic enlightenment